"Menunggu Layang-Layang" (sebuah kisah dalam Madre, karya Dewi Lestari)

“I feel what Christian feels, and I bet you feel what Starla feel” adalah kalimat yang pertama terbesit dalam benakku  setelah membaca cerita ini. Benar-benar mengena.

Christian. Seorang laki-laki yang terbiasa hidup sistematis. Bertahun-tahun hidup sendiri, tanpa kekasih. Starla. Senrang wanita cantik yang tak pernah mempedulikan kecantikannya hingga banyak lelaki yang bertekuk lutut dibuatnya. Mereka berdua telah menjalin persahabatan selama empat tahun. Hubungan mereka berdua dibumbui dengan ketidakcocokan yang justru berujung pada persahabatan karib. Che, begitu Starla memanggil Christian, telah hafal betul bagaimana kebiasaan Starla memperlakukan lelaki yang mencintainya. Ia tak pernah serius dengan para laki-laki itu, tapi ia juga tak berniat main-main. Christian lah orang yang pertama kali Starla hubungi saat ia mulai menjalin atau mengakhiri sebuah hubungan. Christian telah terbiasa dengan itu semua. Ia telah terbiasa menjadi tempat sampah milik Starla. Begitulah kehidupan mereka berjalan setiap harinya hingga suatu hari datanglah Rako, sahabat Che yang mencintai Starla. Banyak hal yang diceritakan Dee yang tak boleh terlewatkan bagi teman-teman pecinta cerpen dan novel. Dibaca sendiri ya lanjutannya :)

Satu hal yang benar-benar aku suka dari cerita ini adalah kemiripannya dengan kisahku. Aku merasa menjadi Christian, dan dia, si R, menjadi Starla. Memang terlihat aneh karena aku merasakan apa yang tokoh laki-laki dalam cerita ini rasakan. Tapi ini nyata, bukan rekayasa. Sangat mirip.

Inilah cuplikan percakapan antara Christian dan Starla yang sangat ku suka. Yang sungguh membuatku tersindir dan sangat ingin ku utarakan pada Si R...
Starla     : “Aku juga bingung apa yang sebenarnya kucari. Yang jelas aku nggak bisa kayak kamu.   Bertahan dalam kesepian.”
Che        : “Kesepian? Hei...”
Starla     : “Selama ini kamu pikir apa artinya hidup kamu yang konstan kayak mesin pabrik? Lagu-lagu pembangkit mood yang kamu racik kayak apoteker bikin obat? Kamu kesepian... Hidup kayak robot adalah satu-satunya cara yang kamu tahu untuk melindungi dirimu dari sepi. Kamu takut sama spontanitas. Kamu takut lepas kendali. Kamu ingin cinta, tapi takut jatuh cinta. But you know what? Kadang-kadang kamu harus terjun dan jadi basah untuk tahu air, Che. Bukan Cuma nonton di pinggir dan berharap kecipratan.
Che        : “Oke, Miss Freud, saya juga punya analisis tentang kamu. Selama ini, kamu mengisi kekosonganmu dengan sibuk mengisi kekosongan orang lain. Saking kamu sibuk sendiri, mereka nggak pernah diberi kesempatan untuk mengisimu balik. Jadi wajar aja kalau nggak satu pun dari mereka bisa memuaskan kamu. Kamu selalu merasa ada yang kurang. Tadinya saya pikir dunia ini nggak adil, Starla. Ternyata saya salah. Dunia ini adil. Cause you know what? Ke mana-mana kamu selalu kelihatan berdua. Tapi sebenarnya kamu sendiri. Selalu sendiri. Nah kembali ke analogimu tentang air itu. Kamu memang terjun ke air, tapi kamu pake baju selam.”
Starla     : “Kamu benar. Ternyata kita sama, Che. Aku dan kamu sama-sama manusia kesepian. Bedanya, aku mencari. Kamu mnunggu.

Nah, dari cuplikan percakapan di atas, aku menemukan sebuah kalimat yang cocok untuk kita berdua. “Aku dan kamu sama-sama manusia kesepian. Bedanya, aku menunggu. Kamu mencari dan mencoba semua yang kamu temui”. Hey R! Hentikanlah percobaan-percobaanmu itu. You should know what you want. Jangan selalu mencoba-coba hubungan dengan perempuan-perempuan yang kamu temui. You should know that it can hurt them, indeed. And the most important thing, I love being your dustbin. Don’t ever stop telling your story to me. I wanna be your only dustbin rather than being one of your kites :)

Comments

Post a Comment