Posts

Showing posts with the label story (mine and others')

IKASADHIRSA Presented...\m/

Image
“...for we are one big family, there will always be time for sharing and caring for each other, even when we are far apart...” (Spread Our Wings, Putera Sampoerna Foundation Family's Anthem) Haven’t met them—my beloved big family— for about 6 months really drove me crazy *agak-lebay-memang*. Yes I missed them so much, but I won't push you to read my pathetic grievance during that missing-them-period. I’m gonna bring you to that unforgettable moment when we were laughing, hugging, kissing , and making scandals (again), together, in SatU (Sampoerna Academy to University). Since we are really professional committee *sorry for being conceited, but we really are :p*, we could prepare everything for SatU without meeting each other. Guess how we coordinate? Via facebook for sure, big thanks to Mark Zuckerberg anyway :D  The night before the event, we prepared the decoration. We stayed awake till 1 a.m. (actually we worked for about two hours only, but we need to hold a s...

nanonano

Life. Losing people. Finding them. Hidup tak pernah statis. Jika pernah terdengar bahwa hidup itu datar, itu hanya karena kebosanan sedang menyelimuti hidup itu sendiri. Manusia kehilangan, manusia mendapatkan. Aku berpisah dengan keluarga SMAku, aku bertemu dengan teman-teman baru –dan juga teman lama yang belum pernah kutemui— di sini, in this big city. And lemme choose a word to describe how it feels...nanonano. Di satu sisi, sungguh sedih karena merindukan mereka, di sisi lain, sangat bahagia bertemu dengan mereka. Thats life. I’ve been worrying many things. Can I adapt to this new environment? Will they like me? Surabaya. Ya Surabaya. It aint same with Banyuwangi. And what Im worrying the most is If Im influenced by them . I hold tight myself and what I have inside. I’ll still be me no matter what. Its fine to have so many friends with different personalities, it is so interesting indeed. But I have to keep myself. I have to keep my personality, dont I? :) Here the problem i...

Confession

Cerita ini berawal  dari sebuah keputusasaan seorang gadis abege. Mencoba mengisi kesepian dengan harapan, yang akhirnya tak pernah terbalaskan. Harapan pertama, memberikan sebuah sinyal, harapan yang lain datang. Saat seluruh harapan itu terakumulasi, sebuah sentilan dahsyat mengubahnya menjadi kepingan-kepingan tak berbentuk. Begitu pula dengan harapan kedua, ketiga. Nihil. Ia sempat ingin menghentikan semua harapan yang mungkin terbalaskan. Mencoba meraih harapan yang terlihat tak mungkin ia raih. Tertatih, memaksakan kehendak kepada dirinya untuk mulai berharap pada seseorang yang tak nyata. Seseorang yang tak mungkin ia raih. Ia yakin harapan itu tak akan menyakitinya, tak akan membawa harapan kosong lain. Sungguh yakin. Gadis itu mulai menjalani hidupnya dengan harapan baru, mulai menumbuhkannya perlahan. Ia tak benar-benar berharap, ia tak benar-benar ingin, ia tak benar-benar jatuh cinta. Tak mungkin manusia normal mencintai seseorang yang tak pernah ia kenal. Gel...

The Most Unforgettable Moment in This Week

Image
Third week of March. well, I began this week, this Sunday morning with a very funny yet embarrassing and painful tragedy. Tak ada firasat apapun. Rutinitasku, sebagai seorang siswi sekolah berasrama, pada Minggu pagi adalah "mbabu". Bersih-bersih kamar, nyuci nyeterika baju, de es be. Bisa dianggap sebagai sebuah latihan rutin untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik sih  J Awal pagi yang biasa saja. Sebelum istigotsah, memang seharusnya aku mencuci baju dulu. Selagi masih pagi dan mesin cuci blok masih kosong, aku pun bergegas mengemasi cucianku dan pergi ke lokasi mencuci. Masih tak ada firasat apa pun. Entah ada angin atau kekuatan dahsyat apa yang mendorongku dari segala arah hingga ku kehilangan keseimbangan, dan BRAK! Jatuh di depan kamar mandi dengan posisi duduk. Tak ada satu orang pun yang bisa kurasakan kehadirannya kecuali Firdha. Ya, Firdha di ujung koridor blok. “Fir, tolong aku!” kalimat itu memenuhi kepala, tapi tak ada sepotong huruf pun yang keluar dari...

Curhat buat Sahabat

Penat. Lima huruf yang mendeskripsikan semua yang saat ini kurasa. Rangkaian ujian dan berbagai macam persiapan untuk menyambut masa depan tak lelah menghiasi tiap detik dalam hidupku. Tapi sungguh, aku lelah , aku muak dengan kepenatan. Aku ingin lepas. Ingin bebas. Dan aku menjatuhkan semua kepenatanku pada sebuah mahakarya dari Dee, Rectoverso. Kisah pertama sudah menyentuh, sangat menyentuh. Aku cinta puisi yang pertama ku temui di buku itu, yang juga sebuah lirik lagu  J Curhat buat Sahabat Sahabatku, usai tawa ini Izinkan aku bercerita: Telah jauh ku mendaki Sesak udara di atas puncak khayalan Jangan sampai kau di sana Telah jauh, ku terjatuh Pedihnya luka di dasar jurang kecewa Dan kini sampailah, aku di sini... Yang cuma ingin diam, duduk di tempatku Menanti seorang yang biasa saja Segelas air di tangannya, kala kuterbaring . . . sakit Yang sudi dekat, mendekap tanganku Mencari teduhnya dalam mataku Dan berbisik: “Pandang aku, kau tak sendiri, oh dewiku...” Dan demi T...

"Menunggu Layang-Layang" (sebuah kisah dalam Madre, karya Dewi Lestari)

“I feel what Christian feels, and I bet you feel what Starla feel” adalah kalimat yang pertama terbesit dalam benakku  setelah membaca cerita ini. Benar-benar mengena. Christian. Seorang laki-laki yang terbiasa hidup sistematis. Bertahun-tahun hidup sendiri, tanpa kekasih. Starla. Senrang wanita cantik yang tak pernah mempedulikan kecantikannya hingga banyak lelaki yang bertekuk lutut dibuatnya. Mereka berdua telah menjalin persahabatan selama empat tahun. Hubungan mereka berdua dibumbui dengan ketidakcocokan yang justru berujung pada persahabatan karib. Che, begitu Starla memanggil Christian, telah hafal betul bagaimana kebiasaan Starla memperlakukan lelaki yang mencintainya. Ia tak pernah serius dengan para laki-laki itu, tapi ia juga tak berniat main-main. Christian lah orang yang pertama kali Starla hubungi saat ia mulai menjalin atau mengakhiri sebuah hubungan. Christian telah terbiasa dengan itu semua. Ia telah terbiasa menjadi tempat sampah milik Starla. Begitulah kehidupa...