Confession


Cerita ini berawal  dari sebuah keputusasaan seorang gadis abege. Mencoba mengisi kesepian dengan harapan, yang akhirnya tak pernah terbalaskan. Harapan pertama, memberikan sebuah sinyal, harapan yang lain datang. Saat seluruh harapan itu terakumulasi, sebuah sentilan dahsyat mengubahnya menjadi kepingan-kepingan tak berbentuk. Begitu pula dengan harapan kedua, ketiga. Nihil.

Ia sempat ingin menghentikan semua harapan yang mungkin terbalaskan. Mencoba meraih harapan yang terlihat tak mungkin ia raih. Tertatih, memaksakan kehendak kepada dirinya untuk mulai berharap pada seseorang yang tak nyata. Seseorang yang tak mungkin ia raih. Ia yakin harapan itu tak akan menyakitinya, tak akan membawa harapan kosong lain. Sungguh yakin.

Gadis itu mulai menjalani hidupnya dengan harapan baru, mulai menumbuhkannya perlahan. Ia tak benar-benar berharap, ia tak benar-benar ingin, ia tak benar-benar jatuh cinta. Tak mungkin manusia normal mencintai seseorang yang tak pernah ia kenal. Gelombang suara dengan susunan huruf yang sama itu sudah sangat sering menggetarkan indera pendengarannya. Ia tahu teori itu. Sangat paham bahkan. Ia membenarkannya, karena itu memang yang ia alami. What she said about her feelings towards “that star” were fake. But she don’t stop pretending. Ia hanya tak ingin benar-benar berharap. Ia tak ingin sakit lagi. Ia menjadikan harapan palsu itu sebagai tameng untuk melawan harapan-harapan nyata lain. Tanpa ia sadari, harapan palsu itu perlahan berbalik menyerangnya.

Ya he is adorable. Many girls adore him. People may think that I’m just an invisible grit that can’t stop chasing him. They aren’t wrong to think that way, because Im acting that way. But one thing people have to know is, no one knows what I actually feel. I never stalked him the way I stalked the one I really adore. I never thought about him the way I thought about the one I miss. I never got jealous everytime I saw he treated other girls nicely. So Im not one of those girls who really adore him. All the things I did were fake. I was the only actress in my own drama. I had to act professionally. But now I decide to quit. I’ve been sick of all the lies I did. I embarrass myself  L and now I must love myself, live my life.
Good bye, all fake J
Terima kasih telah menjadi tameng. Terima kasih telah menjadi cerita. Terima kasih telah membuatku malu menjadi diriku sendiri.”

Sincerely,
nobody

Comments