Curhat buat Sahabat
Penat. Lima huruf yang mendeskripsikan semua yang saat ini kurasa. Rangkaian ujian dan berbagai macam persiapan untuk menyambut masa depan tak lelah menghiasi tiap detik dalam hidupku. Tapi sungguh, aku lelah , aku muak dengan kepenatan. Aku ingin lepas. Ingin bebas. Dan aku menjatuhkan semua kepenatanku pada sebuah mahakarya dari Dee, Rectoverso. Kisah pertama sudah menyentuh, sangat menyentuh. Aku cinta puisi yang pertama ku temui di buku itu, yang juga sebuah lirik lagu J
Curhat buat Sahabat
Sahabatku, usai tawa ini
Izinkan aku bercerita:
Telah jauh ku mendaki
Sesak udara di atas puncak khayalan
Jangan sampai kau di sana
Telah jauh, ku terjatuh
Pedihnya luka di dasar jurang kecewa
Dan kini sampailah, aku di sini...
Yang cuma ingin diam, duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya, kala kuterbaring . . . sakit
Yang sudi dekat, mendekap tanganku
Mencari teduhnya dalam mataku
Dan berbisik: “Pandang aku, kau tak sendiri, oh dewiku...”
Dan demi Tuhan, hanya itulah yang
Itu saja kuinginkan
Telah lama, kumenanti
Satu malam sunyi untuk kuakhiri
Dan usai tangis ini, aku akan berjanji...
Untuk diam, duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya, kala kuterbaring . . . sakit
Menentang malam, tanpa bimbang lagi
Demi satu dewi yang lelah bermimpi
Dan berbisik: “Selamat tidur, tak perlu bermimpi bersamaku...”
Wahai Tuhan, jangan bilang lagi itu terlalu tinggi
(Dewi Lestari)
*I always love what Dee wrote J
Comments
Post a Comment